Senin, 17 Juni 2019

Filter Bubble Effect


            Kehidupan orang-orang cenderung berubah sejak kedatangan media baru. Saat ini informasi memainkan peranan penting sehingga di era digital ini wajar ketika keadaan masyarakat ini disebut sebagai masyarakat informasi. Penggunaan media saat menjadi semakin marak dan tidak terbatas penggunaannya. Terleboh kemajuan teknologi membuat media tradisional berkembang menjadi media sosial. Terutama di media sosial sendiri, pengguna memiliki kebebasan untuk mengakses informasi yang diinginkan. Berbeda dengan media tradisional sebelumnya dimana informasi yang diperoleh publik ditentukan oleh media atau bisa dikatakan sebagai agenda setting. Mereka tidak memiliki wewenang atas apa yang di konsumsi. Apa yang penting bagi media menjadi penting juga untuk audiens.

            Sangat berbalik sangat dengan media sosial yang mana media sosial sendiri bisa menentukan topik mana yang paling diminati. Hal itu juga yang menyebabkan konvergensi adanya media baru terhadap media tradisional, sehingga menghasilkan platform lain seperti televisi atau surat kabar untuk memplokamirkan apa yang khalayak sukai dengan persamaan isinya. Dari beberapa platform tersebut, media sosial menjadi memberikan peluang untuk meningkatkan akses ke informasi dan diverifikasi sumber dan opini. Media sosial telah sangat meningkatkan “jurnalisme warga”. Mereka menyediakan saluran untuk semua orang dalam menjangkau publik, berbagi informasi dan mengekspresikan pendapatnya tanpa persyaratan formal dan dengan gangguan minimalnya bentuk regulasi dan sensor.

            Pada akhirnya melalui kebebasan dalam pengelolaan informasi, seseorang menjadi memiliki otoritas penuh untuk mengatur dirinya sendiri dan orang lain akan seperti apa. Termasuk dalam masalah penganiayaan yang dihasilkan karena adanya informasi karena pola pikir yang membelenggu pada sudut pandang tertentu. Dunia seolah diciptakan oleh seseorang dengan informasi yang didapatkan di media sosial. Dari tindakan penganiayaan tersebut menjadi efek gelembung filter, menunjukkan hilangnya kekuatan kritis dan tidak adanya argumen. Media sosial dapat menjadi ruang bagi siapapun untuk mengarahkan opini publik menjadi sama dengan keyakinan mereka. tempa yang begitu kuat tersebut membuat sesuatu yang dikonsumsi setiap hari, bahkan setiap detik dapat mengubah perspektif seseorang.

            Disebutkan oleh Furthemor, Pariser (2011) yang menyebutkan bahwa situasi ini mengarah pada pengguna yang menerima informasi dengan bias. Dalam hal informasi politik juga mungkin mengarahlan pada situasi pengguna yang jarang atau bahkan tidak pernah melihat sudut pandang yang berbeda pada masalah politik atau moralnya. Hal tersebut memberikan kesimpulan bahwa pengguna akan ditempatkan pada “gelembung filter/filter bubble” dan mereka tidak akan tahu apa yang hilang atau disembunyikan.

            Menurut teori aksi rasional yang menekankan rasionalitas di rung publik yang di paparkan oleh Habermas, ada dua tindakan yang bisa digunakan untuk menganalisis dalam melihat tindakan penganiayaan di media sosial sebagai efek dari gelembung filter. Dua tindakan tersebut adalah tindakan rasionalitas instrumental dan tindakan rasionalitas komunikatif. Berangkat dari masalah tersebut maka dengan tindakan itu akan dibahas lagi mengenai bagaimana tindakan penganiayaan di media sosial dikaitkan dengan efek gelembung filter, konteks masyarakat digital, tindakan rasional para aktor dan hilangnya diskusi kritis di ruang publik seperti pada karya Yetkinel & Colak (2017, hal. 5001) yang mana sebenarnya ruang publik dikenal karena sifatnya yang murni dan kritis didukung oleh kekuatan penalaran. Namun kehadiran efek dari gelombang filter menyebabkan sudah banyak sekali kasus yang menjadi dampak dari gelombang filter tersebut.

            Poin utama dari efek gelembung tersebut diambil dari peran media sosial dan hubungannya dengan masyarakat digital saat ini adalah akses informasi. Bisa disebutkan bahwa tantangan menggunakan media sosial adalah media sosial terlalu meningkatkan trend “informasi yang berlebihan” sehingga membuatnya lebih sulit untuk disaring menjadi informasi yang relevan dan berguna. Pada akhirnya hal tersebut kemudian  mengarah pada “fragmentasi sosial” dan “isolasi digital”. Dari pertanyaan tersebut bisa dicontohkan bahwa ketika seseorang mengkonsumsi informasi yang sama atau hanya berdasarkan pada sudut pandang tunggal terus-menerus, maka ia akan mengalami isolasi digital atau dikatakan sebagai efek gelembung filter. Dalam gelembung filter yang dimaksud adalah keadaan seseorang dimana dia sudah tertutup dengan apa yang sudah menjadi acuannya sehingga tak jarang pada akhirnya orang tersebut tidak mau mengetahui informasi lainnya. Terlebih akan diperkuat dengan adanya informasi yang sama dan sejalan dengan apa yang dia pikirkan.

            Ketika seseorang tidak pernah melihat perspektif yang berbeda dari orang lain, maka kemungkinan dia akan berlarut-larut dalam penilaiannya sendiri. Hal itu memicu adanya penganiayaan di media sosial sebagai hasil dari gelembung filter. Penganiataan disini dalam kamus Bahasa Indonesia sebagai perburuan yang sewenang-wenang terhadap satu atau sejumlah penduduk, melukai, bermasalah dan kemudian dihancurkan. Sangat mungkin dilakukan di media sosial yang mendefinisikan sebagai “media di internet yang memungkinkan penggunanya untuk menampilkan dan mengekspresikan diri mereka untuk berinteraksi, untuk bekerja sama, untuk berbagi, untuk berkomunikasi dengan pengguna lain. Mengacu pada pernyataan tersebut, dimisalkan ketika seseorang memiliki kepercayaan atau ideologi yang bertentangan dengan ideologi orang lain dan ingin membuat orang lain sama, akan berbahaya dan berpeluang kegiatan penganiayaan terjadi.

            Akan lebih mudah lagi ketika melihat penjelasan Eli Pariser dalam The Filter Bubble yang menerangkan bahwa internet akan menciptakan situasi dimana pengguna semakin mendapatkan informasi yang menegaskan keyakinan mereka sebelumnya. Lebih berbahaya lagi ketika berdampak pada bidang politik dan juga demokrasi yang ada di Indonesia. Bisa dicontohkan pada kasus yang menimpa Ahok. Masih ingat dengan jelas bagaimana kedaulatan Indonesia agak goyah dengan peristiwa 2 Desember 2016 (212) kemarin. Di situs resmi tirto.id, dijelaskan bahwa tindakan itu dimulai ketika Ahok melakukan kunjungan kerja ke Kepulauan Seribu pada hari Selasa, 27 September 2016. Dalam pidatonya di depan orang-orang, Ahok mengatakan untuk tidak memaksa warga untuk memilih sendiri dalam pemilu 2017. Pernyataan itu disertai dengan kutipan dari Al Maidah ayat 51 menuai reaksi publik. Pada hari Kamis, 6 Oktober 2016, video Ahok tentang Al Maidah ayat 51 adalah viral di media sosial, melalui jaringan Facebook milik Buni Yani (Debora, 2016). Kasus ini telah menciptakan ketegangan di kalangan komunitas Muslim yang menjadi agama mayoritas di Indonesia.

            Dampak dari gelombang filter akan tampak pada dua jenis orang, baik yang pro dan kontra kepada Ahok. Semakin banyaknya informasi yang sesuai dengan masing-masing pilihan tersebut, maka belenggu untuk tidak lagi mendengarkan informasi lain dan tidak sama dengan dirinya akan semakin tampak. Alhasil, perilaku selanjutnya yang dilakukan adalah masing-masing pikah akan menimbulkan, atau bahkan bisa saja memunculkan informasi yang berifat menguatkan, sehingga tsecara tidak sadar akan menyebabkan penganiayaan bagi kedua pihaknya. Dampak lain lagi adalah keadaan untuk saling menjatuhkan satu sama lain, padahal sebenarnya mereka akan lebih memberikan kompensasi terhadap satu sama lain ketika mereka mau melihat kedua sisinya. 




Daftar Pustaka

Arina Rohmtul Hidayah.2018.Persecution Act as Filter Bubble Effect: Digital Society and The Shift Of Public Sphere.Universitas Gadjah Mada.Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politil Volume 22

Sayooran Nagulendra and Julita Vassileva.Understanding and Controlling the Filter Bubble through Interactive Visualization: A User Study.University of Saskatchewan

Dr. Ellen Helsper.The Filter Bubble : What The Internet Is Hiding From You.LSE public lecture.

Senin, 20 Mei 2019

Jurnalis 4.0 : Jurnalis Manusia vs Jurnalis Robot ?


Membahas mengenai jurnalistik akan selalu erat kaitannya dengan produksi fakta atau informasi yang disebarkan kepada khalayak melalui beberapa media, baik cetak, radio, televisi yang mana media cetak masih erat kaitannya dengan jurnalisme tradisional. Kemudian perkenalan jurnalisme berkembang dan merambah melalui teknologi dalam jaringan. Penggunaan teknologi yang sudah terkenal di saat ini tidak lepas dengan sebutan jurnalisme digital atau jurnalisme online.

Berkembangnya jaringan internet tersebut maka akan terjadi akumulasi dari perangkat lunak dan perangkat keras yang akan mendukung teknologi untuk lebih mempercepat dan mengefisiensi praktik komunikasi yang dihadapi jurnalisme di era digital seperti kenyataan yang ada pada saat ini. Jurnalisme dibentuk untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh khalayak sehingga mereka bisa mengatur dirinya sendiri dengan kebebasan informasi yang mereka dapatkan. Media di sini berperan untuk membantu khalayak dalam memahami pengetahuan, menciptakan bahasa, mengenali lingkungan masyarakatnya yang sebagian besar tidak akan tahu tanpa adanya informasi yang disampaikan. Dari hal tersebut maka jurnalisme akan membantu memberikan gambaran bagaimana khalayak yang sudah menerima informasi tersebut untuk mengambil keputusan berperilakunya.

Majunya dunia jurnalistik memunculkan suatu bentuk baru dari hasil perkembangan teknologi berupa robot jurnalistik. Kehadiran robot jurnalistik sudah memberikan bukti penelitian bahwa robot jurnalistik mampu menuliskan berita yang diprogramkan oleh seorang jurnalis asli (berwujud manusia). Cara kerja dari robot jurnalistik itu sendiri adalah dengan mengidentifikasi trend atau mempublikasikan artikel dalam format yang sudah dibuat. Bisa dikatakan bahwa robot jurnalistik nantinya memiliki peluang untuk menjadikan masa depan jurnalistik kemudian dipandang menjanjikan dan lebih menguntungkan.

Teknologi kecerdasan dari robot jurnalistik tersebut merupakan buatan atau sering disebut dengan Artificial Intelligence (AI) yang mampu menuliskan artikel layaknya manusia. Melihat betapa ribetnya seorang jurnalisme nyata (manusia) dalam pekerjaannya yang setiap hari diharuskan memilah dan mengecek informasi dengan sangat teliti, robot jurnalistik mampu menjadi penyusun berita yang merupakan hal menarik karena bisa menjadi asisten jurnalistik manusia dalam menyelesaikan pekerjaannya. Robot jurnalistik ini nantinya dengan perkembangan Neuro-Linguistic Programming (NLP) akan mampu menulis berita yang sama kualitasnya dengan jurnalistik manusia. Semakin berkembangnya kecerdasan buatan yang dibubuhkan dalam robot jurnalistik membuatnya akan mudah mempelajari bagaimana menanggapi umpan komunikasi yang diterima, baik oleh khalayak ataupun jurnalistik manusianya yang masih memprogram robot tersebut.

Di Indonesia, robot jurnalistik sudah cukup baik digunakan oleh Beritagar dalam rubriknya yang menuliskan pertandingan Liga Inggris di antara Leicester vs Stoke City yang berakhir imbang. Robot jurnalistik baru digunakan untuk menuliskan berita-berita dengan informasi yang memiliki karakteristik menetap, seperti berita olahraga, bola ataupun balap motor yang mana pertanyaan dan isi dari beritanya terbilang konsisten. Robot menuliskannya atas hasil dari disediakannya data dalam dunia teknologi internet dan data tersebut bisa dibeli. Karena banyaknya informasi yang ditampung oleh robot, alhasil artikel atau berita yang dituliskan oleh robot jurnalistik belum sehalus berita yang dibuat oleh jurnalis manusia yang mampu menangkap makna dari setiap peristiwa. Robot jurnalistik harus terus belajar pola menyusun berita, memilih kata hingga menentukan parafrase yang tepat ager berita tidak terlihat membosankan karena bahasa komputer yang banyak menjadi baku.

Lalu apakah adanya robot jurnalistik akan menggantikan peran manusia sebagai pawarta berita ?

Bisa dilihat bahwa kemampuan robot jurnalistik sudah memiliki kapasitas peluang yang besar untuk menyelesaikan banyak pekerjaan dengan cepat. Jurnalisme manusia yang tadinya harus berkerja dengan sangat cepat karena dikejar waktu untuk setor berita yang menjadi kewajibannya akan secara otomatis dibantu oleh robot jurnalistik. Jurnalisme manusia yang terbagi dalam jurnalisme tradisional dan jurnalisme digital akan sangat terbantu oleh kehadiran robot tersebut. Program yang sudah dipasang dalam robot jurnalistik untuk menyusun berita yang konsisten akan memberikan banyak waktu kepada jurnalistik untuk menyelesaikan berita lainnya. Waktu yang tersisa karena pekerjaan lain sudah dikerjakan oleh robot jurnalistik bisa digunakan jurnalisme manusia untuk mengerjakan berita atau informasi dengan lebih mendalam, dimaksudkan bahwa manusia akan lebih tahu makna sebenarnya yang terjadi dari suatu peristiwa. Sehingga dengan itu investigasi yang dilakukan jurnalisme manusia bisa dituliskan olehnya dalam bentuk laporan panjang dan lebih lengkap.

Peran yang bisa diberikan manusia untuk membuat robot jurnalistik menjadi terwujud dengan berbagai macam kemampuannya masih sangat banyak. Robot jurnalistik nantinya bisa dibuat dari programer, data scientist sampai jurnalis seperti apa yang sudah dipaparkan di atas. Hal itu yang nantinya akan membuat robot jurnalistik bisa mengerjakan sejumlah tahapan misalnya cloud computing, Internet of Things, hingga mengolah Big Data.

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa robot jurnalistik harus disusun menggunakan kode program yang ditentukan oleh manusia sebelum menyusun berita. Setelah itu barulah robot jurnalis bisa mengotomatiskan dan melakukan optimalisasi di setiap tahapan dalam proses produksi berita, mengumpulkan bahan berita yang bisa dicari dengan kecepatan waktu yang sangat, pencarian judul, pembuatan berita sampai menyortir perilaku hingga menganalisis feedback yang diberikan oleh pembaca.

Lalu apakah robot jurnalistik masih akan memunculkan kesalahan dalam penulisan berita ?

Kenyataannya bahwa robot merupakan suatu sistem yang dibuat oleh manusia, yang mana kemungkinan akan terjadinya kesalahan masih memiliki peluang. Atrinya bahwa sebuah robot yang digunakan dengan kemampuan secerdas apapun akan mutlak membutuhkan manusia untuk memprogramnya dengan benar untuk meminimalisir kesalahan yang terjadi dalam pembuatan berita oleh robot jurnalistik. Peran dari jurnalis manusia dan ilmuan komputer itu sendiri yang nantinya akan membuat robot jurnalistik memiliki inisiatif untuk mencari berita, merekam memori dan kemudian melakukan verifikasi dengan menelefon narasumber, menyusun logika dan menulis berita secara otomatis masih menjadi harapan besar yang nantinya bisa maksimal dilakukan oleh robot jurnalistik dengan bantuan manusia. Maka dari itu terhitung bahwa kemampuan dari jurnalisme manusia itu sendiri tidak akan pernah bisa terlepas.

Pembahasan terakhir mengenai identitas yang ada pada jurnalis tradisional dan jurnalis digital atas adanya robot jurnalistik.

Sebuah sistem atau program yang dibuat komputer seperti robot jurnalistik tidak akan pernah lepas kaitannya tanpa bantuan atau buatan dari manusia. Terlebih dalam menyajikan berita yang mana komputer dengan sistemnya dan manusia dengan hati dan naluri pikirannya akan menghasilkan suatu produk yang berbeda meskipun bisa dikatakan dengan sumber informasi yang sama. Dari sini bisa yang bisa dipahami adalah kehadiran dari jurnalisme tradisional, jurnalisme digital dan robot jurnalis memiliki identitas masing-masing yang tidak akan pernah bisa digantikan satu sama lain. Pada kenyataannya jurnalisme tradisional dan jurnalisme digital yang diperankan oleh manusia akan memiliki keoptimalan dalam kenyataan dan tuntutan dunia jurnalistik. Keduanya yang berupa manusia yang benar-benar paham teori, praktik dan kode etik jurnalistik yang wajib dimiliki sebenarnya oleh seorang jurnalis yang nantinya wajib bisa dipertanggungjawabkan. Kembalil lagi bahwa identitas dari dua jenis jurnalisme tersbeut masih akan tetap bertahan dan melekat dalam diri masing-masing mengikuti apa yang sudah menjadi ciri khas, tingkat kesulitan, kinerja sampai pada hasil akhir suatu berita yang diproduksi.

DAFTAR PUSTAKA

Sri Oktika Amran, Irwansyah.2018.Jurnalisme Robot dalam Media Daring Beritagar.id.Jakarta: Universitas Indonesia


   

Minggu, 14 April 2019

BERAGAM ACARA WARNAI DIES NATALIES UNTIDAR KE-5


Eloknya namamu menjadi motivasi,
Mencucurkan harapan-harapan di bawah naungan TIDAR
Lembah dengan ketinggian yang mengisyaratkan mimpi agar setinggi itu
Bisa terwujud tanpa terpaku

MAGELANG – Menginjak peringatan ke 5 dengan diibaratkan sebuah usia 5 tahun bagi banyak makhluk yang bertulang belakang adalah usia yang masih sangat muda atau bahkan bisa dikatakan sebagai balita yang baru saja menginjakkan kaki dan berjalan, mulai mengetahui sedikit demi sedikit apa saja yang akan terjadi dalam dunia. Namun berbeda dengan mahkluk hidup, organisasi dengan usia muda pun bisa memiliki kinerja yang sangat baik. Seperti apa yang bisa digambarkan oleh kampus Universitas Tidar. Tentunya hal itu terjadi karena “diawaki” oleh manusia-manusia yang memiliki visi dan pandangan jauh ke depan ditambah semangat yang menyala-nyala dan kemampuan yang tinggi. Terlebih di tahun ini pula terpilihlah rektor baru dengan harapan banyak mahasiswa menjadi panutan untuk kebaikan Universitas Tidar selanjutnya.

Dengan usia yang baru mencapai 5 tahun resminya Universitas Tidar menjadi PTN ini, tentunya tak lepas dari sejarah yang panjang. Di tahun 1979 UNTIDAR disaat pendiriannya melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tiggi, 1981 UNTIDAR terdaftar di Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia disemua kejuruannya, 1984 status terdaftar diperbaruhi dengan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 03950/1984, 1998 seluruh program studi mendapatkan status terakreditasi dari BAN-PT, 1999 membuka Diploma Tiga untuk prodi Akuntansi dan Teknik Mesin Otomotif dan pada 1 April 2014 UNTIDAR resmi berstatus PTN.

Sejarah panjang tersebut tentunya tidak semuanya berjalan dengan mulus dan selalu ada grafik terus-menerus meningkat. Terdapat beberapa masalah pula yang menunjukkan kondisi kampus UNTIDAR tidak begitu menggembirakan. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat bagi civitas dan mahasiswa UNTIDAR untuk tetap berkontribusi dan menjalankan peringatan hari jadi Universitas Tidar sebagai bentuk apresiasi dan rasa bangga. Rentetan acara dilakukan mulai dari gerak jalan santai yang diselenggarakan untuk umum, perlombaan yang di tujukan kepada mahasiswa dan civitas akademika UNTIDAR seperti perlombaan tenis, perlombaan menyanyi dan company profil, perlombaan Stand Up Comedy, kuliah umum sampai pada kegiatan penutupan nanti diisi pentas seni yang dilaksanakan pada tanggal 2 Mei 2019.



Kemeriahan Dies Natalies UNTIDAR ke-5 terlihat pada saat pelaksanaan lomba menyanyi di tanggal 10 April 2019 yang dilaksanakan di auditorium UNTIDAR. Ada beberapa kategori menyanyi dalam perlombaan tersebut, yaitu pop, dangdut dan keroncong. Pelombaan menyanyi tunggal ini tidak hanya diikuti oleh mahasiswa saja, namun juga banyak dosen dan civitas yang menghadiri dan mengikuti perlombaan tersebut. Mereka dengan antusias mendukung idola masing-masing, atau bahkan saling menyemangati satu sama lainnya. Semua peserta wajib menyiapkan 1 lagu untuk penyisihan dan 1 lagu untuk babak final ketika berhasil mengalahkan peserta lomba lainnya.


     
Berlanjut dihari selanjutnya. 11 April 2019 tepatnya pada hari kamis diadakannya kuliah umum dengan tema “Ilmu Negosiasi dan Pengembangan Jaringan Kerja dalam Meningkatkan Entrepreneurship”. Kuliah umum ini diikuti oleh perwakilan mahasiswa di setiap kelas atau program studi. “Diisi narasumber dari mahasiswa UNNES yang kuliah di luar negeri dengan beasiswa”, tutur Putri, mahasiswa UNTIDAR di program studi Pendidikan IPA.

Semangat dan lancarnya kegiatan di setiap acara yang diagendakan membuat pengaruh tersendiri yang tampak pada kemeriahan rangkaian Dies Natalies UNTIDAR ke-5. Harapan besar dalam benak siapapun yang kini ada dalam lingkup kampus UNTIDAR bisa semakin memperbaiki lagi sehingga benar-benar menjadi kampus yang segera maju dalam berkarya dan pendidikannya.

Sabtu, 06 April 2019




Aku tuturkan sedikit, bercampur dengan bagian-bagian dari materi yang sedang ku tempuh dalam jenjangku, namun tak apa, tak bermasalah, kamu tetap akan ada di setiap apapun yang aku lakukan, semoga kamu sekilas melihat.

Aku senang mengenalmu, aku senang berbincang denganmu, meskipun hanya melalui aplikasi chatting. Aku bahagia mendengar tawamu, meskipun aku tak pernah tahu apa alasan di balik tawamu itu. Aku senang bisa mengajakmu pergi, meskipun aku tak pernah tahu hatimu dimana saat bersamaku. Aku terkesan dengan kepribadianmu, kamu sosok yang tangguh, lagi mandiri. Dan kuatmu itu, yang selalu menguatkanku, meski aku tak pernah katakan ini padamu. Entah kamu menyadarinya atau tidak, yang pasti, aku merasakan semua hal di atas dengan penuh kesadaran.

Sederhananya, aku mencintaimu.

Hey, maaf jika aku harus kembali lagi. Tapi tenanglah, ini tak akan lama, ku jamin. Aku hanya ingin menyampaikan apa yang belum sempat tersampaikan. Dan sebelumnya, izinkan aku duduk di hadapanmu. Nanti, kamu tak perlu menjawab apapun dari setiap penyampaianku. Kamu baru boleh menjawabnya dengan diri dan hatimu sendiri, setelah aku tak ada lagi. Setelah aku beranjak.

Aku bertarung dengan egoku sendiri untuk tidak mencintai siapapun setelah sembuh dari pertarunganku dengan hatiku kemarin. Nyatanya, bertemu denganmu membuatku kalah telak. Tak ada yang bisa ku sangkal, seolah sudah benar-benar siap untuk dipatahkan. Terimakasih.

Karena, harapan adalah akar dari semua sakit hati. ˜William Shakespeare˜

Minggu, 31 Maret 2019

GEMES (Gerakan Melek Sejarah) 2019


Bedah Buku Sebagai Literasi Sejarah Untuk 

Indonesia Berkarakter



Literasi sebagai suatu bentuk proses untuk membaca, kemudian paham apa yang ada di dalam isinya dan menceritakan kembali sebagai pembelajaran mengetahui sejarah bangsa dan negara. Bertempat tepat di depan Museum BPK RI, Karisidenan Kedu Magelang, panggung didirikan untuk menengok kembali narasi sisi lain Pangeran Diponegoro selama masa hidupnya. Museum BPK RI diresmikan pada tahun 1997 dan kemudian di resmikan kembali pada 9 januari 2017. Tempat yang juga memiliki sisi sejarah seperti Museum BPK RI dilibatkan untuk berkontribusi dalam kegiatan yang khususnya ditujukan dengan fungsi menilik dan sedikit banyak mengingat ulang sejarah. Masih dalam serangkaian acara Gerakan Melek Sejarah 2019, di Jum’at siang, 29 Maret 2019 menjadi salah satu saksi terkuaknya lagi sejarah Pangeran Diponegoro. “Terimakasih atas partisipasi yang diberikan oleh Direktorat Jendral Pendidikan dan Kebudayaan, pada hari ini atas terselenggaranya acara GeMeS, semoga bisa berjalan dengan sukses dan tercapai tujuan-tujuan yang diharapkan”, tutur Ibu Sri Haryati sebagai Humas BPK RI pada sambutan yang diberikannya.

GeMeS diselenggarakan oleh Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai peningkatan kesadaran masyarakat akan kearifan sikap dan kepedulian terhadap khasanah budaya bangsa serta refleksi atas nilai-nilai luhur dari kisah-kisah perjuangan para tokoh sejarah memang harus dilakukan. Pada kesempatan kali itu dibahas bagaimana kepahlawanan Diponegoro dan semangat juangnya. Hadir 4 narasumber yang tahu Pangeran Diponegoro dalam masing-masing versinya, yaitu Bapak Wagiman Joyonegoro, Bapak Ironi Sudewo, Bapak Mike Susanto dam Prof. Peter Carry yang menjadi narasumber utama untuk mengisahkan seperti apa sisi lain Diponegoro dalam bukunya. Bedah buku ini merupakan suatu strategi yang digunakan untuk meningkatkan kesadaran budaya dan kearifan sejarah negeri. Kegiatan bedah buku juga dihadiri oleh sejumlah tamu undangan, mencakup dosen, guru, mahasiswa dan beberapa siswa SMA yang ikut berpartisipasi dalam diskusi waktu itu.

Tulisan dari buku Prof. Peter Carry tentang sisi lain Diponegoro memiliki beberapa hal menarik. Dimana Prof. Peter Carry bisa memperkenalkan sumber sejarah lokal utuk ditarik kembali menjadi bagian penting bagi sejarah. Padahal diceritakan bahwa pada waktu itu, jaman Prof. Peter carry masih menginjak masa muda, mengangkat sejarah lokal yang namanya babad, sangid dan sejenisnya dianggap agak disisihkan diawal-awal perkembangan sejarah di Indonesia karena dianggapnya sebagai dongeng. Akan tetapi dengan jeli Prof. Peter Carry berhasil mengangkat sejarah lokal ini menjadi sumber yang penting yang menjadi bagian dari penulisan sejarah. bersangkutan dengan komitmen dari Direktorat Sejarah itu sendiri adalah menggairahkan bagaimana nantinya kiprah kita untuk menggali lagi sejarah-sejarah lokal yang ada di Indonesia. Sejarah lokal yang selama ini agak terabaikan karena lebih memilih sejarah nasional yang berkecimpung pada sumber sejarah yang sifatnya arsip, dokumen dan bentuk lainnya yang tersimpan di perpustakaan maupun tempat-tempat arsip. Melihat esensi sebenarnya bahwa kita lebih punya kekayaan yang luar biasa dari sejarah lokal. Babad yang di-jlambrangkan oleh Prof. Peter Carry sendiri dalam bukunya mampu membayangkan, menarik dan mempelajari kebudayaan jawa yang pada waktu itu menyelimuti kehidupan Pangeran Diponegoro, pengikutnya bersama dengan orang-orang yang hidup di jamannya. Ini menjadi hal menarik dalam bedah buku kali ini karena disandingkan dengan babad gedung kebo yang ditulis oleh Raden Adipati Diponegoro 1 bersama barsah pengalasan yang juga membahas sisi lain Diponegoro mengenai ketokohan dan pengibaratan diri menjadi seorang arjuna, seorang ratu yang adil dalam ramalan Joyoboyo yang merupakan sejarah tentang sosok kepahlawanan. Babad gedung kebo memiliki arti khusus dan menarik juga yaitu Pangeran Diponegoro dianggap sebagai berindan yang seolah Pangeran Diponegoro mempunyai watak yang baik tetapi sombong. “Namun tujuannya adalah menggali sumber-sumber budaya lokal yang menarik dengan berbagai versi narasi bahwa sejarah nasional tidak akan ada tanpa sejarah lokal”, kata bijaknya Agus Widyatmoko sebagai perwakilan dari Direktorat Sejarah.

Melihat gagasan dan pikiran Prof. Piter Carry maka dibedah dan dibahas kembali mengenai seluk beluk ketokohan Diponegoro oleh ke-4 narasumber yang sudah datang. Prof. Peter Carry sedikit bersimpati bahwa beliau ingin sekali menjadikan lukisan-lukisan yang digambarkan dari buku yang beliau tulis sebagai inspirasi semangat kepada orang yang datang melihat lukisannya. Beliau juga menyayangkan bahwasannya kurang adanya pemaksimalan tempat bersejarah seperti Karisidenan Kedu sebagai yang sakti, tempat yang harus selalu dikenang nilai-nilainya, bukan tempat yang digunakan untuk upacara lokal seperti pernikahan, pertunangan dan yang lainnya.

Dikesempatan bedah buku tersebut, membaca menjadi satu hal penting yang sudah bukan lagi alasan agar kita bisa memahami, tidak hanya sejarah namun juga seluruh aspek kehidupan yang bisa kita baca menjadi suatu kewajiban. Sehingga kita paham betul bagaimana nantinya kita bersikap meskipun dengan beberapa versi dari masing-masing penulis dengan topik yang sama. Kesimpulannya, melek sejarah adalah keterjagaan dan kesadaran akan sejarah, tidak lupa dan tidak kosong akan sejarah, yang dimanfaatkan untuk bertindak pada masa kini dan masa depan.

Minggu, 24 Maret 2019


KUNJUNGAN IMIKI UNTUK SOLIDARITAS TANPA BATAS

Nanti,
Tidak ada lagi aku,
Tidak ada lagi kamu,
Tapi aku dan kamu, melebur menjadi kita

Begitu semboyan dari salah satu anggota aktif IMIKI pada sabtu (23/3) luangkan waktu kemarin menyambang ke kampus UNTIDAR. IMIKI (Ikatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Indonesia) adalah wadah tunggal atau suatu forum untuk menampung aspirasi mahasiswa ilmu komunikasi di seluruh Indonesia dalam kajian ilmu komunikasi, penelitian, dan pengabdian masyarakat misalnya dengan literasi media atau kejurnalistikan dan bidang kehumasan yang berkaitan dengan komunikasi guna menunjang pembangunan nasional khususnya dalam bidang komunikasi. Seluruh mahasiswa yang ilmu komunikasi di Indonesia sebenarnya adalah IMIKI, hanya saja ada IMIKI aktif dan IMIKI pasif. IMIKI aktif adalah mahasiswa yang ikut berkiprah dalam kepengurusan IMIKI sendiri, dan IMIKI pasif berisi keseluruhan mahasiswa kuliah pada program studi maupun berkaitan dalam bidang ilmu komunikasi. Dari hal tersebut maka diambil kesimpulan bahwa IMIKI dibagi dalam beberapa wilayah.

         Kepemimpinan tahun ini diketuai oleh Mas Alif Madani, mahasiswa komunikasi dari UII dengan nama “Kabinet Migunani”. Mas Alif diamanahkan untuk mengorganisir IMIKI cabang Jogja dengan gabungan dari 16 universitas yang ada di Jogjakarta, Solo dan Surakarta. IMIKI cabang Jogja masuk dalam IMIKI wilayah 3 (Solo, Jogja, Surakarta, Semarang dan Kalimantan). Kalian bisa kunjungi sekre IMIKI cabang Jogja ada di Jalan Wates, Jogjakarta. Beberapa program kerja sudah dilakukan IMIKI sampai merambah ke tingkat nasional. Beberapa kegiatan yang menarik dilakukan IMIKI, organisasi tidak boleh hanya formalitas, namun juga kultural, berarti lebih menggunakan hati. Misalnya saja, ketika kegiatan “Hari Pers Dunia”. Secercik pengalaman IMIKI, di suatu daerah wilayah 3 IMIKI Jogja, masih banyak masyarakat yang tidak menggunakan etika pers dalam meng-upload suatu informasi atau kejadian yang baru saja terjadi. Kebanyakan warga banyak yang penggambilan gambarnya tidak sesuai, namun langsung saja di publikasikan. Dari krisis ini, IMIKI mencoba untuk membuat program penyuluhan dalam bidang kejurnalistikan agar masyarakat selain memiliki pengetahuan lebih, juga lebih bisa menjaga informasi agar tidak menyalahi kode etik.

        Masih banyak kegiatan IMIKI yang sudah berjalan. Termasuk rapat besar atau rapat nasional yang diikuti oleh seluruh cabang IMIKI yang ada di Indonesia. Biasanya rapat besar di lakukan di Surabaya. Membahas pengabdian IMIKI untuk menyatukan seluruh mahasiswa ilmu komunikasi yang ada di Indonesia ada beberapa patah kata yang Mas Alif sampaikan pada kunjungan kemarin. “Bikin kompetisi-kompetisi paling kecil buat cari bibit ketika kita masuk ke kompetisi yang lebih berbobot selanjutnya, biar ngga kesusahan atau terlalu mendadak, usahakan semua bisa terwadahi tetapi tetap harus ada keunggulan untuk ciri khas prodi kalian”, ujarnya. Dari pesan yang di sampaikan Mas Alif dan teman-teman IMIKI lainnya, sudah menjadi hukum alam ketika bergabung kedalam suatu organisasi, memanusiakan manusia adalah wajib hukumnya.

       Sekilas gores tentang IMIKI pada kesempatan kali ini, for more you can see @IMIKIJOGJA.


Minggu, 17 Maret 2019

KONVERGENSI MEDIA


Semangat tinggi, memotret peristiwa kehidupan dengan berbagai aspek, baik dipergulatan batin dalam diri, atau luar diri. Itu suatu proses yang panjang. Wiwitan ini menghatarkanku pada materi pertamaku dalam Jurnalisme Online, yakni:

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN KONVERGENSI MEDIA,

TIPE-TIPE KONVERGENSI DAN CONTOHNYA

     Sebagai pengantar yang akan menemani membahas konvergensi media lebih dalam lagi, penulis sudah mengutip suatu kalimat yang diutarakan oleh Roger Fidler di tahun 1997 dalam bukunya yang mengatakan konvergensi media disebut sebagai Mediamorphosis. Mediamorphosis mengajak untuk melihat dari sisi perkembangan teknologi dan industri media massa sebagai masa depan dari konvergensi media.

      Mediamorfosis merupakan transformasi media komunikasi yang kebanyakan timbul karena adanya hubungan timbal balik yang rumit antara kebutuhan yang dirasakan, tekanan atas adanya persaingan dan politik, juga berbagai inovasi sosial dan teknologi. Dari mediamorfosis penulis mengajak pembaca untuk memahami bahwa adanya bagian yang saling terkait, dengan berbagai kesamaan yang ada melihat dari bentuk yang muncul pada masa lalu, masa sekarang maupun yang sedang dalam proses kemunculannya. Dan yang terjadi adalah adanya proses adaptasi dan pengembangan.

Dari pengantar yang penulis sebutkan, konvergensi masuk sebagai konsep dalam mediamorfosis. Untuk mempertahankan diri dari bergejolaknya suatu media, mediamorfosis memiliki sebuah strategi dengan tiga konsep utama, diantaranya :

1.       Koevolusi.
Keharusan ketika suatu bentuk baru yang muncul dan berkembang mempengaruhi bentuk lain juga misalnya media. Bentuk-bentuk media mempunyai siklus kehidupan sebelum akhirnya benar-benar punah. Kehadiran teknologi yang sekarang tidak akan ada jika setiap media baru terjadi bersamaan dengan media lama mati. Namun, sebagian besar media sifat dasarnya akan tetap sama menjadi bagian dari sistem.

2.       Konvergensi.
Nicholas Negroponte disebutkan sebagai orang pertama yang menghadirkan konvergensi media dan teknologi digital yang pada akhirnya sering dikenal sebagai komunikasi multimedia. Multimedia tersebut menjadi medium yang mengintegrasikan dua bentuk komunikasi atau lebih. Konvergensi bukan berarti menggantikan bentuk-bentuk yang terdahulu, namun menunjukkan peluang yang poensial untuk pengembangan media baru.

3.       Kompleksitas.
Persoalan konvergensi tidak lepas dari perubahan yang sering kali menimbulkan situasi yang kacau atau chaos. Perlu ditekankan bahwa chaos merupakan komponen penting dalam perubahan, dimana chaos melahirkan gagasan baru yang akan menghidupkan sistem-sistem dan mentransformasikannya. Dari statement di atas bisa dipadatkan bahwa sistem komunikasi manusia adalah suatu sistem yang saling bergantung dan dinamis yang akan menimbulkan kompleksitas yang adaptif.

    Selain konvergensi sebagai bagian dari konsep mediamorfosis, perlu diketahui juga paradigma konvergensinya. Mengasumsikan bahwa media lama dan media baru akan tetap berinteraksi karena kecenderungan media lama yang harus beradaptasi dengan kemajuan media baru. Bisa dikatakan konvergensi menjadi satu ketertarikan atau kesamaan fokus yang terjadi karena proses penyatuan dari berbagai macam bentuk hal.


    Konvergensi tidak hanya sebatas perkembangan dalam rana teknologi, namun juga merambah dan mengubah pola dasar kehidupan manusia. Konvergensi mampu mengubah hubungan kehidupan manusia ke dalam berbagai macam bidang. Baik teknologi, industri, pasar, gaya hidup sampai ke ekonomi, politik, sosial dan budaya.

  Berkaca dari banyaknya sisi kehidupan yang sudah berkonvergensi membuat konvergensi media sendiri memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Berikut adalah kelebihan dan kekurangan yang akan penulis paparkan secara singkat menurut pemahaman penulis.

a.    Kelebihan Konvergensi Media

1) Konvergensi menyebabkan perubahan yang cukup signifikan antara komunikasi tradisional dengan konvensional yang mana bisa memadukan komunikasi antarpribadi dan komunikasi massa dalam satu media sekaligus.

2)  Konvergensi membuat media penerbitan bertambah fungsi sekaligus sebagai media penyiaran, begitupun sebaliknya media penyiaran juga berfungsi sebagai media penerbitan.

3) Audiens media massa menjadi partner media atau bahkan mengisi konten media massanya dengan semakin berkembangnya konvergensi.

4) Dikuasainya media massa yang dimiliki audiens  membuat audiens bisa mengontrol situasi dan keseluruhannya tanpa terbatas ruang dan waktu, temasuk mengakses dan berhubungan dengan informasi.

5) Konvergensi menyebabkan kreativitas media yang semakin tidak terbatas.

6)  Adanya konvergensi membuat pendapatan dan periklanan yang ada di media model lama berubah dan bertambah.

7)  Konvergensi media membuat arsip dan informasi yang ceruk menjadi lebih bernilai.

8) Banyaknya pilihan yang terbentuk setelah hadirnya konvergensi media.

9)  Konvergensi menumbuhkan dan menciptakan lagi kultur baru yang sejalan dengan   semakin berkembangnya konvergensi media.

10) Berpotensi pada bebasnya bersuara serta interaksi dalam berbagai bidang kehidupan khalayak.

b.    Kekurangan Konvergensi Media

1) Adanya konvergensi menyebabkan demasifikasi karena setiap orang memiliki kebebasan untuk memiliki informasi yang dibutuhkan sehingga informasi yang berlangsung semakin personal.

2) Dari personalnya informasi akibat konvergensi membuat persaingan antar audiens semakin tinggi dan bisa saja sampai tidak terkontrol.

3) Perlunya kecakapan yang terus-menerus berubah dengan banyak   inovasi karena suatu berita yang tidak di edit akan menjadi informasi yang biasa.

4) Adanya konvergensi membuat tidak adanya lagi siklus berita karena informasi menjadi seketika atau spontan.

5) Adanya konvergensi membuat media yang hadir sudah semakin sulit untuk dikendalikan.

6) Karena tidak dikendalikan, ketika suatu informasi negatif muncul  tidak akan mudah melakukan peredaman dan akan muncul rentetan  informasi negatif selanjutnya.

7) Kehadiran media karena konvergensi memiliki ketidakterbatasan siapapun untuk mengaksesnya, bahkan akan tetap selalu ada meskipun informasi tersebut sudah dihapus, kerugian terlebih lagi pada suatu hal yang merugikan personal.

8) Di Indonesia, konvergensi media menjadi sesuatu yang dipandang dan dirasakan buruk oleh masyarakat karena konvergensi yang dilakukan di Indonesia hanya menjadi budaya dan mengikuti arus global.

Seletah mengetahui beberapa kelebihan dan kekurangan konvergensi media yang sudah penulis tulis, perlu tahu apa saja tipe-tipe konvergensi media dengan pengertiannya masing-masing. Tipe konvergensi media menjadi pilihan baik bagi perusahaan maupun personal sesuai dengan strateginya masing-masing.

A. Convergence of Ownership ( Konvergensi Kepemilikan ), tipe konvergensi ini mengacu pada perusahaan besar yang memiliki beberapa jenis media. Misalnya perusahaan MNC. Perusahaan ini memiliki beberapa jenis media, yakni MNC Group sering digunakan bagi pelanggan MNC, MNC Shop yang sering digunakan sebagai e-commerce, MNC Newsroom sebagai penyaji informasi atau berita dan chanel MNC TV. Perusahaan lainnya yang bisa dicontohkan yaitu program berita Seputar Indonesia, perusahaan ini memiliki media koran dan juga media berita yang ditampilkan dalam televisi langsung.

B.  Tactical Convergence ( Konvergensi Taktis ), tipe konvergensi ini bentuk kerja sama yang bergerak di bidang promosi dengan saling bertukar informasi yang diperoleh dari media-media yang berkonvergen atau bekerja sama. Misalnya suatu produk yang bekerja sama dengan radio. Radio akan melakukan promosi yang disesuaikan dengan target marketnya ketika memperdengarkan iklan, begitu juga timbal balik ketika produk tersebut sedang mengadakan bonus atau diskon dengan mencantumkan tempat atau pemesanan produk tersebut bisa melalui radio yang diajak bekerja sama.

C. Structural Convergence ( Konvergensi Struktural ), yaitu tipe konvergensi yang membutuhkan penataan ulang dari hasil pembagian kerja dan strukturisasi organisasi di setiap media yang sudah menjadi bagian dari konvergensi. Bisa dicontohkan dalam kehidupan sehari-hari atau dalam suatu perusahaan, dimana semakin berkembangnya suatu media mengharuskan siapapun yang terlibat lebih diketahui lagi bakat dari kinerja yang dilakukan dalam pekerjaan sebelumnya. Misalnya menciptakan inovasi media yang mampu menaikkan brand perusahaan tersebut, pastilah harus ada tugas kerja yang sesuai dan menguasainya.

D.  Convergence of Information Gathering ( Konvergensi Pengumpulan Informasi ), dalam tipe konvergensi ini jurnalis melakukan liputan, pengolahan data dan menyajikannya dalam berbagai platform. Misalnya berupa cetak, televisi, dan website. Sama halnya bisa dicontohkan dalam perusahaan Kompas yang mana perusahaan ini mencakup kinerja jurnalistik yang cukup maksimal karena mampu memberikan informasi atau berita baik melalui televisi atau yang lebih dikenal dengan Kompas TV, dengan media cetak atau koran Kompas dan juga websitenya pada Kompas.id dan Kompas.com.

E. Narrative Convergence ( Konvergensi Naratif ), tipe konvergensi ini menuntut keterampilan jurnalis dalam mengemas berita yang sesuai dengan pasar media yang bersangkutan dan dilengkapi dengan foto, video maupun grafis dengan lebih mengembangkan kreatifitas. Bisa dilihat di masa perkembangan konvergensi media sat ini sudah banyak sekali perusahaan yang menggunakan ketrampilan dalam menyusun dan menyajikan informasi dalam multimedia. Misalnya, perusahaan Good News Indonesia yang sudah mampu memikat para pembaca maupun penggemarnya karena berbagai konten yang dikemas secara kreatif baik video dan fotonya dengan nilai unggul dalam Good News Indonesia adalah memberikan berita dan informasi yang selalu positif.



DAFTAR PUSTAKA :

AG. Eka Wenats Wuryata.Digitalisasi Masyarakat: Menilik Kekuatan dan Kelemahan Dinamika Era Informasi Digital dan Masyarakat Informasi.Jurnal ILMU KOMUNIKASI Vol. 1, No. 2, Desember: 131-142
Idhar Resmadi, Sonny Yuliar.2014.Kajian Difusi Inovasi Konvergensi Media diHarian Pikiran Rakyat.Bandung: Institut Teknologi Bandung,Jurnal Sosioteknologi Vol. 13, No 2, Agustus 2014
Khadziq.2016.Konvergensi Media Surat Kabar Lokal (Studi Deskriptif Pemanfaatan Internet Pada Koran Tribun Jogja dalam Membangun Industri Media Cetak Lokal).Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga,e-Journal Vol.10, No. 01, April 2016
Rangga Galura Gumelar.Konvergensi Media Online.Jakarta: Universitas Sultan Ageng Tirtayasa



Filter Bubble Effect

             Kehidupan orang-orang cenderung berubah sejak kedatangan media baru. Saat ini informasi memainkan peranan penting sehingga d...