Senin, 17 Juni 2019

Filter Bubble Effect


            Kehidupan orang-orang cenderung berubah sejak kedatangan media baru. Saat ini informasi memainkan peranan penting sehingga di era digital ini wajar ketika keadaan masyarakat ini disebut sebagai masyarakat informasi. Penggunaan media saat menjadi semakin marak dan tidak terbatas penggunaannya. Terleboh kemajuan teknologi membuat media tradisional berkembang menjadi media sosial. Terutama di media sosial sendiri, pengguna memiliki kebebasan untuk mengakses informasi yang diinginkan. Berbeda dengan media tradisional sebelumnya dimana informasi yang diperoleh publik ditentukan oleh media atau bisa dikatakan sebagai agenda setting. Mereka tidak memiliki wewenang atas apa yang di konsumsi. Apa yang penting bagi media menjadi penting juga untuk audiens.

            Sangat berbalik sangat dengan media sosial yang mana media sosial sendiri bisa menentukan topik mana yang paling diminati. Hal itu juga yang menyebabkan konvergensi adanya media baru terhadap media tradisional, sehingga menghasilkan platform lain seperti televisi atau surat kabar untuk memplokamirkan apa yang khalayak sukai dengan persamaan isinya. Dari beberapa platform tersebut, media sosial menjadi memberikan peluang untuk meningkatkan akses ke informasi dan diverifikasi sumber dan opini. Media sosial telah sangat meningkatkan “jurnalisme warga”. Mereka menyediakan saluran untuk semua orang dalam menjangkau publik, berbagi informasi dan mengekspresikan pendapatnya tanpa persyaratan formal dan dengan gangguan minimalnya bentuk regulasi dan sensor.

            Pada akhirnya melalui kebebasan dalam pengelolaan informasi, seseorang menjadi memiliki otoritas penuh untuk mengatur dirinya sendiri dan orang lain akan seperti apa. Termasuk dalam masalah penganiayaan yang dihasilkan karena adanya informasi karena pola pikir yang membelenggu pada sudut pandang tertentu. Dunia seolah diciptakan oleh seseorang dengan informasi yang didapatkan di media sosial. Dari tindakan penganiayaan tersebut menjadi efek gelembung filter, menunjukkan hilangnya kekuatan kritis dan tidak adanya argumen. Media sosial dapat menjadi ruang bagi siapapun untuk mengarahkan opini publik menjadi sama dengan keyakinan mereka. tempa yang begitu kuat tersebut membuat sesuatu yang dikonsumsi setiap hari, bahkan setiap detik dapat mengubah perspektif seseorang.

            Disebutkan oleh Furthemor, Pariser (2011) yang menyebutkan bahwa situasi ini mengarah pada pengguna yang menerima informasi dengan bias. Dalam hal informasi politik juga mungkin mengarahlan pada situasi pengguna yang jarang atau bahkan tidak pernah melihat sudut pandang yang berbeda pada masalah politik atau moralnya. Hal tersebut memberikan kesimpulan bahwa pengguna akan ditempatkan pada “gelembung filter/filter bubble” dan mereka tidak akan tahu apa yang hilang atau disembunyikan.

            Menurut teori aksi rasional yang menekankan rasionalitas di rung publik yang di paparkan oleh Habermas, ada dua tindakan yang bisa digunakan untuk menganalisis dalam melihat tindakan penganiayaan di media sosial sebagai efek dari gelembung filter. Dua tindakan tersebut adalah tindakan rasionalitas instrumental dan tindakan rasionalitas komunikatif. Berangkat dari masalah tersebut maka dengan tindakan itu akan dibahas lagi mengenai bagaimana tindakan penganiayaan di media sosial dikaitkan dengan efek gelembung filter, konteks masyarakat digital, tindakan rasional para aktor dan hilangnya diskusi kritis di ruang publik seperti pada karya Yetkinel & Colak (2017, hal. 5001) yang mana sebenarnya ruang publik dikenal karena sifatnya yang murni dan kritis didukung oleh kekuatan penalaran. Namun kehadiran efek dari gelombang filter menyebabkan sudah banyak sekali kasus yang menjadi dampak dari gelombang filter tersebut.

            Poin utama dari efek gelembung tersebut diambil dari peran media sosial dan hubungannya dengan masyarakat digital saat ini adalah akses informasi. Bisa disebutkan bahwa tantangan menggunakan media sosial adalah media sosial terlalu meningkatkan trend “informasi yang berlebihan” sehingga membuatnya lebih sulit untuk disaring menjadi informasi yang relevan dan berguna. Pada akhirnya hal tersebut kemudian  mengarah pada “fragmentasi sosial” dan “isolasi digital”. Dari pertanyaan tersebut bisa dicontohkan bahwa ketika seseorang mengkonsumsi informasi yang sama atau hanya berdasarkan pada sudut pandang tunggal terus-menerus, maka ia akan mengalami isolasi digital atau dikatakan sebagai efek gelembung filter. Dalam gelembung filter yang dimaksud adalah keadaan seseorang dimana dia sudah tertutup dengan apa yang sudah menjadi acuannya sehingga tak jarang pada akhirnya orang tersebut tidak mau mengetahui informasi lainnya. Terlebih akan diperkuat dengan adanya informasi yang sama dan sejalan dengan apa yang dia pikirkan.

            Ketika seseorang tidak pernah melihat perspektif yang berbeda dari orang lain, maka kemungkinan dia akan berlarut-larut dalam penilaiannya sendiri. Hal itu memicu adanya penganiayaan di media sosial sebagai hasil dari gelembung filter. Penganiataan disini dalam kamus Bahasa Indonesia sebagai perburuan yang sewenang-wenang terhadap satu atau sejumlah penduduk, melukai, bermasalah dan kemudian dihancurkan. Sangat mungkin dilakukan di media sosial yang mendefinisikan sebagai “media di internet yang memungkinkan penggunanya untuk menampilkan dan mengekspresikan diri mereka untuk berinteraksi, untuk bekerja sama, untuk berbagi, untuk berkomunikasi dengan pengguna lain. Mengacu pada pernyataan tersebut, dimisalkan ketika seseorang memiliki kepercayaan atau ideologi yang bertentangan dengan ideologi orang lain dan ingin membuat orang lain sama, akan berbahaya dan berpeluang kegiatan penganiayaan terjadi.

            Akan lebih mudah lagi ketika melihat penjelasan Eli Pariser dalam The Filter Bubble yang menerangkan bahwa internet akan menciptakan situasi dimana pengguna semakin mendapatkan informasi yang menegaskan keyakinan mereka sebelumnya. Lebih berbahaya lagi ketika berdampak pada bidang politik dan juga demokrasi yang ada di Indonesia. Bisa dicontohkan pada kasus yang menimpa Ahok. Masih ingat dengan jelas bagaimana kedaulatan Indonesia agak goyah dengan peristiwa 2 Desember 2016 (212) kemarin. Di situs resmi tirto.id, dijelaskan bahwa tindakan itu dimulai ketika Ahok melakukan kunjungan kerja ke Kepulauan Seribu pada hari Selasa, 27 September 2016. Dalam pidatonya di depan orang-orang, Ahok mengatakan untuk tidak memaksa warga untuk memilih sendiri dalam pemilu 2017. Pernyataan itu disertai dengan kutipan dari Al Maidah ayat 51 menuai reaksi publik. Pada hari Kamis, 6 Oktober 2016, video Ahok tentang Al Maidah ayat 51 adalah viral di media sosial, melalui jaringan Facebook milik Buni Yani (Debora, 2016). Kasus ini telah menciptakan ketegangan di kalangan komunitas Muslim yang menjadi agama mayoritas di Indonesia.

            Dampak dari gelombang filter akan tampak pada dua jenis orang, baik yang pro dan kontra kepada Ahok. Semakin banyaknya informasi yang sesuai dengan masing-masing pilihan tersebut, maka belenggu untuk tidak lagi mendengarkan informasi lain dan tidak sama dengan dirinya akan semakin tampak. Alhasil, perilaku selanjutnya yang dilakukan adalah masing-masing pikah akan menimbulkan, atau bahkan bisa saja memunculkan informasi yang berifat menguatkan, sehingga tsecara tidak sadar akan menyebabkan penganiayaan bagi kedua pihaknya. Dampak lain lagi adalah keadaan untuk saling menjatuhkan satu sama lain, padahal sebenarnya mereka akan lebih memberikan kompensasi terhadap satu sama lain ketika mereka mau melihat kedua sisinya. 




Daftar Pustaka

Arina Rohmtul Hidayah.2018.Persecution Act as Filter Bubble Effect: Digital Society and The Shift Of Public Sphere.Universitas Gadjah Mada.Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politil Volume 22

Sayooran Nagulendra and Julita Vassileva.Understanding and Controlling the Filter Bubble through Interactive Visualization: A User Study.University of Saskatchewan

Dr. Ellen Helsper.The Filter Bubble : What The Internet Is Hiding From You.LSE public lecture.

Filter Bubble Effect

             Kehidupan orang-orang cenderung berubah sejak kedatangan media baru. Saat ini informasi memainkan peranan penting sehingga d...