Bedah Buku Sebagai Literasi Sejarah Untuk
Indonesia Berkarakter
Literasi
sebagai suatu bentuk proses untuk membaca, kemudian paham apa yang ada di dalam
isinya dan menceritakan kembali sebagai pembelajaran mengetahui sejarah bangsa
dan negara. Bertempat tepat di depan Museum BPK RI, Karisidenan Kedu Magelang,
panggung didirikan untuk menengok kembali narasi sisi lain Pangeran Diponegoro
selama masa hidupnya. Museum BPK RI diresmikan pada tahun 1997 dan kemudian di
resmikan kembali pada 9 januari 2017. Tempat yang juga memiliki sisi sejarah
seperti Museum BPK RI dilibatkan untuk berkontribusi dalam kegiatan yang
khususnya ditujukan dengan fungsi menilik dan sedikit banyak mengingat ulang
sejarah. Masih dalam serangkaian acara Gerakan Melek Sejarah 2019, di Jum’at
siang, 29 Maret 2019 menjadi salah satu saksi terkuaknya lagi sejarah Pangeran
Diponegoro. “Terimakasih atas partisipasi yang diberikan oleh Direktorat
Jendral Pendidikan dan Kebudayaan, pada hari ini atas terselenggaranya acara
GeMeS, semoga bisa berjalan dengan sukses dan tercapai tujuan-tujuan yang
diharapkan”, tutur Ibu Sri Haryati sebagai Humas BPK RI pada sambutan yang
diberikannya.
GeMeS
diselenggarakan oleh Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan sebagai peningkatan kesadaran masyarakat akan
kearifan sikap dan kepedulian terhadap khasanah budaya bangsa serta refleksi
atas nilai-nilai luhur dari kisah-kisah perjuangan para tokoh sejarah memang
harus dilakukan. Pada kesempatan kali itu dibahas bagaimana kepahlawanan Diponegoro
dan semangat juangnya. Hadir 4 narasumber yang tahu Pangeran Diponegoro dalam
masing-masing versinya, yaitu Bapak Wagiman Joyonegoro, Bapak Ironi Sudewo,
Bapak Mike Susanto dam Prof. Peter Carry yang menjadi narasumber utama untuk
mengisahkan seperti apa sisi lain Diponegoro dalam bukunya. Bedah buku ini
merupakan suatu strategi yang digunakan untuk meningkatkan kesadaran budaya dan
kearifan sejarah negeri. Kegiatan bedah buku juga dihadiri oleh sejumlah tamu
undangan, mencakup dosen, guru, mahasiswa dan beberapa siswa SMA yang ikut
berpartisipasi dalam diskusi waktu itu.
Tulisan
dari buku Prof. Peter Carry tentang sisi lain Diponegoro memiliki beberapa hal
menarik. Dimana Prof. Peter Carry bisa memperkenalkan sumber sejarah lokal utuk
ditarik kembali menjadi bagian penting bagi sejarah. Padahal diceritakan bahwa
pada waktu itu, jaman Prof. Peter carry masih menginjak masa muda, mengangkat sejarah
lokal yang namanya babad, sangid dan
sejenisnya dianggap agak disisihkan diawal-awal perkembangan sejarah di Indonesia
karena dianggapnya sebagai dongeng. Akan tetapi dengan jeli Prof. Peter Carry
berhasil mengangkat sejarah lokal ini menjadi sumber yang penting yang menjadi
bagian dari penulisan sejarah. bersangkutan dengan komitmen dari Direktorat
Sejarah itu sendiri adalah menggairahkan bagaimana nantinya kiprah kita untuk
menggali lagi sejarah-sejarah lokal yang ada di Indonesia. Sejarah lokal yang
selama ini agak terabaikan karena lebih memilih sejarah nasional yang berkecimpung
pada sumber sejarah yang sifatnya arsip, dokumen dan bentuk lainnya yang
tersimpan di perpustakaan maupun tempat-tempat arsip. Melihat esensi sebenarnya
bahwa kita lebih punya kekayaan yang luar biasa dari sejarah lokal. Babad yang di-jlambrangkan oleh Prof. Peter Carry sendiri dalam bukunya mampu
membayangkan, menarik dan mempelajari kebudayaan jawa yang pada waktu itu
menyelimuti kehidupan Pangeran Diponegoro, pengikutnya bersama dengan
orang-orang yang hidup di jamannya. Ini menjadi hal menarik dalam bedah buku
kali ini karena disandingkan dengan babad
gedung kebo yang ditulis oleh Raden Adipati Diponegoro 1 bersama barsah pengalasan yang juga membahas
sisi lain Diponegoro mengenai ketokohan dan pengibaratan diri menjadi seorang arjuna, seorang ratu yang adil dalam
ramalan Joyoboyo yang merupakan sejarah tentang sosok kepahlawanan. Babad gedung kebo memiliki arti khusus
dan menarik juga yaitu Pangeran Diponegoro dianggap sebagai berindan yang seolah Pangeran Diponegoro
mempunyai watak yang baik tetapi sombong. “Namun tujuannya adalah menggali
sumber-sumber budaya lokal yang menarik dengan berbagai versi narasi bahwa sejarah
nasional tidak akan ada tanpa sejarah lokal”, kata bijaknya Agus Widyatmoko
sebagai perwakilan dari Direktorat Sejarah.
Melihat
gagasan dan pikiran Prof. Piter Carry maka dibedah dan dibahas kembali mengenai
seluk beluk ketokohan Diponegoro oleh ke-4 narasumber yang sudah datang. Prof. Peter
Carry sedikit bersimpati bahwa beliau ingin sekali menjadikan lukisan-lukisan
yang digambarkan dari buku yang beliau tulis sebagai inspirasi semangat kepada
orang yang datang melihat lukisannya. Beliau juga menyayangkan bahwasannya
kurang adanya pemaksimalan tempat bersejarah seperti Karisidenan Kedu sebagai
yang sakti, tempat yang harus selalu dikenang nilai-nilainya, bukan tempat yang
digunakan untuk upacara lokal seperti pernikahan, pertunangan dan yang lainnya.
Dikesempatan
bedah buku tersebut, membaca menjadi satu hal penting yang sudah bukan lagi
alasan agar kita bisa memahami, tidak hanya sejarah namun juga seluruh aspek
kehidupan yang bisa kita baca menjadi suatu kewajiban. Sehingga kita paham
betul bagaimana nantinya kita bersikap meskipun dengan beberapa versi dari
masing-masing penulis dengan topik yang sama. Kesimpulannya, melek sejarah
adalah keterjagaan dan kesadaran akan sejarah, tidak lupa dan tidak kosong akan
sejarah, yang dimanfaatkan untuk bertindak pada masa kini dan masa depan.
