Membahas mengenai
jurnalistik akan selalu erat kaitannya dengan produksi fakta atau informasi
yang disebarkan kepada khalayak melalui beberapa media, baik cetak, radio,
televisi yang mana media cetak masih erat kaitannya dengan jurnalisme
tradisional. Kemudian perkenalan jurnalisme berkembang dan merambah melalui
teknologi dalam jaringan. Penggunaan teknologi yang sudah terkenal di saat ini
tidak lepas dengan sebutan jurnalisme digital atau jurnalisme online.
Berkembangnya jaringan
internet tersebut maka akan terjadi akumulasi dari perangkat lunak dan
perangkat keras yang akan mendukung teknologi untuk lebih mempercepat dan
mengefisiensi praktik komunikasi yang dihadapi jurnalisme di era digital
seperti kenyataan yang ada pada saat ini. Jurnalisme dibentuk untuk menyediakan
informasi yang dibutuhkan oleh khalayak sehingga mereka bisa mengatur dirinya
sendiri dengan kebebasan informasi yang mereka dapatkan. Media di sini berperan
untuk membantu khalayak dalam memahami pengetahuan, menciptakan bahasa,
mengenali lingkungan masyarakatnya yang sebagian besar tidak akan tahu tanpa
adanya informasi yang disampaikan. Dari hal tersebut maka jurnalisme akan
membantu memberikan gambaran bagaimana khalayak yang sudah menerima informasi
tersebut untuk mengambil keputusan berperilakunya.
Majunya dunia jurnalistik
memunculkan suatu bentuk baru dari hasil perkembangan teknologi berupa robot
jurnalistik. Kehadiran robot jurnalistik sudah memberikan bukti penelitian
bahwa robot jurnalistik mampu menuliskan berita yang diprogramkan oleh seorang
jurnalis asli (berwujud manusia). Cara kerja dari robot jurnalistik itu sendiri
adalah dengan mengidentifikasi trend atau
mempublikasikan artikel dalam format yang sudah dibuat. Bisa dikatakan bahwa
robot jurnalistik nantinya memiliki peluang untuk menjadikan masa depan
jurnalistik kemudian dipandang menjanjikan dan lebih menguntungkan.
Teknologi kecerdasan dari
robot jurnalistik tersebut merupakan buatan atau sering disebut dengan Artificial Intelligence (AI) yang mampu
menuliskan artikel layaknya manusia. Melihat betapa ribetnya seorang jurnalisme
nyata (manusia) dalam pekerjaannya yang setiap hari diharuskan memilah dan
mengecek informasi dengan sangat teliti, robot jurnalistik mampu menjadi
penyusun berita yang merupakan hal menarik karena bisa menjadi asisten
jurnalistik manusia dalam menyelesaikan pekerjaannya. Robot jurnalistik ini nantinya
dengan perkembangan Neuro-Linguistic
Programming (NLP) akan mampu menulis berita yang sama kualitasnya dengan
jurnalistik manusia. Semakin berkembangnya kecerdasan buatan yang dibubuhkan
dalam robot jurnalistik membuatnya akan mudah mempelajari bagaimana menanggapi
umpan komunikasi yang diterima, baik oleh khalayak ataupun jurnalistik
manusianya yang masih memprogram robot tersebut.
Di Indonesia, robot
jurnalistik sudah cukup baik digunakan oleh Beritagar dalam rubriknya yang
menuliskan pertandingan Liga Inggris di antara Leicester vs Stoke City yang
berakhir imbang. Robot jurnalistik baru digunakan untuk menuliskan
berita-berita dengan informasi yang memiliki karakteristik menetap, seperti
berita olahraga, bola ataupun balap motor yang mana pertanyaan dan isi dari
beritanya terbilang konsisten. Robot menuliskannya atas hasil dari
disediakannya data dalam dunia teknologi internet dan data tersebut bisa
dibeli. Karena banyaknya informasi yang ditampung oleh robot, alhasil artikel
atau berita yang dituliskan oleh robot jurnalistik belum sehalus berita yang
dibuat oleh jurnalis manusia yang mampu menangkap makna dari setiap peristiwa. Robot
jurnalistik harus terus belajar pola menyusun berita, memilih kata hingga
menentukan parafrase yang tepat ager berita tidak terlihat membosankan karena
bahasa komputer yang banyak menjadi baku.
Lalu apakah adanya robot jurnalistik akan menggantikan
peran manusia sebagai pawarta berita ?
Bisa dilihat bahwa
kemampuan robot jurnalistik sudah memiliki kapasitas peluang yang besar untuk
menyelesaikan banyak pekerjaan dengan cepat. Jurnalisme manusia yang tadinya
harus berkerja dengan sangat cepat karena dikejar waktu untuk setor berita yang
menjadi kewajibannya akan secara otomatis dibantu oleh robot jurnalistik. Jurnalisme
manusia yang terbagi dalam jurnalisme tradisional dan jurnalisme digital akan
sangat terbantu oleh kehadiran robot tersebut. Program yang sudah dipasang
dalam robot jurnalistik untuk menyusun berita yang konsisten akan memberikan
banyak waktu kepada jurnalistik untuk menyelesaikan berita lainnya. Waktu yang
tersisa karena pekerjaan lain sudah dikerjakan oleh robot jurnalistik bisa
digunakan jurnalisme manusia untuk mengerjakan berita atau informasi dengan
lebih mendalam, dimaksudkan bahwa manusia akan lebih tahu makna sebenarnya yang
terjadi dari suatu peristiwa. Sehingga dengan itu investigasi yang dilakukan
jurnalisme manusia bisa dituliskan olehnya dalam bentuk laporan panjang dan
lebih lengkap.
Peran yang bisa diberikan
manusia untuk membuat robot jurnalistik menjadi terwujud dengan berbagai macam
kemampuannya masih sangat banyak. Robot jurnalistik nantinya bisa dibuat dari
programer, data scientist sampai
jurnalis seperti apa yang sudah dipaparkan di atas. Hal itu yang nantinya akan
membuat robot jurnalistik bisa mengerjakan sejumlah tahapan misalnya cloud computing, Internet of Things, hingga
mengolah Big Data.
Namun tidak dapat
dipungkiri bahwa robot jurnalistik harus disusun menggunakan kode program yang
ditentukan oleh manusia sebelum menyusun berita. Setelah itu barulah robot
jurnalis bisa mengotomatiskan dan melakukan optimalisasi di setiap tahapan
dalam proses produksi berita, mengumpulkan bahan berita yang bisa dicari dengan
kecepatan waktu yang sangat, pencarian judul, pembuatan berita sampai menyortir
perilaku hingga menganalisis feedback yang
diberikan oleh pembaca.
Lalu apakah robot jurnalistik masih akan memunculkan
kesalahan dalam penulisan berita ?
Kenyataannya bahwa robot
merupakan suatu sistem yang dibuat oleh manusia, yang mana kemungkinan akan
terjadinya kesalahan masih memiliki peluang. Atrinya bahwa sebuah robot yang
digunakan dengan kemampuan secerdas apapun akan mutlak membutuhkan manusia
untuk memprogramnya dengan benar untuk meminimalisir kesalahan yang terjadi
dalam pembuatan berita oleh robot jurnalistik. Peran dari jurnalis manusia dan
ilmuan komputer itu sendiri yang nantinya akan membuat robot jurnalistik
memiliki inisiatif untuk mencari berita, merekam memori dan kemudian melakukan
verifikasi dengan menelefon narasumber, menyusun logika dan menulis berita
secara otomatis masih menjadi harapan besar yang nantinya bisa maksimal
dilakukan oleh robot jurnalistik dengan bantuan manusia. Maka dari itu
terhitung bahwa kemampuan dari jurnalisme manusia itu sendiri tidak akan pernah
bisa terlepas.
Pembahasan terakhir mengenai identitas yang ada pada
jurnalis tradisional dan jurnalis digital atas adanya robot jurnalistik.
Sebuah sistem atau program
yang dibuat komputer seperti robot jurnalistik tidak akan pernah lepas
kaitannya tanpa bantuan atau buatan dari manusia. Terlebih dalam menyajikan
berita yang mana komputer dengan sistemnya dan manusia dengan hati dan naluri
pikirannya akan menghasilkan suatu produk yang berbeda meskipun bisa dikatakan
dengan sumber informasi yang sama. Dari sini bisa yang bisa dipahami adalah
kehadiran dari jurnalisme tradisional, jurnalisme digital dan robot jurnalis
memiliki identitas masing-masing yang tidak akan pernah bisa digantikan satu
sama lain. Pada kenyataannya jurnalisme tradisional dan jurnalisme digital yang
diperankan oleh manusia akan memiliki keoptimalan dalam kenyataan dan tuntutan
dunia jurnalistik. Keduanya yang berupa manusia yang benar-benar paham teori,
praktik dan kode etik jurnalistik yang wajib dimiliki sebenarnya oleh seorang
jurnalis yang nantinya wajib bisa dipertanggungjawabkan. Kembalil lagi bahwa
identitas dari dua jenis jurnalisme tersbeut masih akan tetap bertahan dan
melekat dalam diri masing-masing mengikuti apa yang sudah menjadi ciri khas,
tingkat kesulitan, kinerja sampai pada hasil akhir suatu berita yang
diproduksi.
DAFTAR PUSTAKA
Sri Oktika Amran, Irwansyah.2018.Jurnalisme Robot dalam Media Daring Beritagar.id.Jakarta:
Universitas Indonesia