Minggu, 31 Maret 2019

GEMES (Gerakan Melek Sejarah) 2019


Bedah Buku Sebagai Literasi Sejarah Untuk 

Indonesia Berkarakter



Literasi sebagai suatu bentuk proses untuk membaca, kemudian paham apa yang ada di dalam isinya dan menceritakan kembali sebagai pembelajaran mengetahui sejarah bangsa dan negara. Bertempat tepat di depan Museum BPK RI, Karisidenan Kedu Magelang, panggung didirikan untuk menengok kembali narasi sisi lain Pangeran Diponegoro selama masa hidupnya. Museum BPK RI diresmikan pada tahun 1997 dan kemudian di resmikan kembali pada 9 januari 2017. Tempat yang juga memiliki sisi sejarah seperti Museum BPK RI dilibatkan untuk berkontribusi dalam kegiatan yang khususnya ditujukan dengan fungsi menilik dan sedikit banyak mengingat ulang sejarah. Masih dalam serangkaian acara Gerakan Melek Sejarah 2019, di Jum’at siang, 29 Maret 2019 menjadi salah satu saksi terkuaknya lagi sejarah Pangeran Diponegoro. “Terimakasih atas partisipasi yang diberikan oleh Direktorat Jendral Pendidikan dan Kebudayaan, pada hari ini atas terselenggaranya acara GeMeS, semoga bisa berjalan dengan sukses dan tercapai tujuan-tujuan yang diharapkan”, tutur Ibu Sri Haryati sebagai Humas BPK RI pada sambutan yang diberikannya.

GeMeS diselenggarakan oleh Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai peningkatan kesadaran masyarakat akan kearifan sikap dan kepedulian terhadap khasanah budaya bangsa serta refleksi atas nilai-nilai luhur dari kisah-kisah perjuangan para tokoh sejarah memang harus dilakukan. Pada kesempatan kali itu dibahas bagaimana kepahlawanan Diponegoro dan semangat juangnya. Hadir 4 narasumber yang tahu Pangeran Diponegoro dalam masing-masing versinya, yaitu Bapak Wagiman Joyonegoro, Bapak Ironi Sudewo, Bapak Mike Susanto dam Prof. Peter Carry yang menjadi narasumber utama untuk mengisahkan seperti apa sisi lain Diponegoro dalam bukunya. Bedah buku ini merupakan suatu strategi yang digunakan untuk meningkatkan kesadaran budaya dan kearifan sejarah negeri. Kegiatan bedah buku juga dihadiri oleh sejumlah tamu undangan, mencakup dosen, guru, mahasiswa dan beberapa siswa SMA yang ikut berpartisipasi dalam diskusi waktu itu.

Tulisan dari buku Prof. Peter Carry tentang sisi lain Diponegoro memiliki beberapa hal menarik. Dimana Prof. Peter Carry bisa memperkenalkan sumber sejarah lokal utuk ditarik kembali menjadi bagian penting bagi sejarah. Padahal diceritakan bahwa pada waktu itu, jaman Prof. Peter carry masih menginjak masa muda, mengangkat sejarah lokal yang namanya babad, sangid dan sejenisnya dianggap agak disisihkan diawal-awal perkembangan sejarah di Indonesia karena dianggapnya sebagai dongeng. Akan tetapi dengan jeli Prof. Peter Carry berhasil mengangkat sejarah lokal ini menjadi sumber yang penting yang menjadi bagian dari penulisan sejarah. bersangkutan dengan komitmen dari Direktorat Sejarah itu sendiri adalah menggairahkan bagaimana nantinya kiprah kita untuk menggali lagi sejarah-sejarah lokal yang ada di Indonesia. Sejarah lokal yang selama ini agak terabaikan karena lebih memilih sejarah nasional yang berkecimpung pada sumber sejarah yang sifatnya arsip, dokumen dan bentuk lainnya yang tersimpan di perpustakaan maupun tempat-tempat arsip. Melihat esensi sebenarnya bahwa kita lebih punya kekayaan yang luar biasa dari sejarah lokal. Babad yang di-jlambrangkan oleh Prof. Peter Carry sendiri dalam bukunya mampu membayangkan, menarik dan mempelajari kebudayaan jawa yang pada waktu itu menyelimuti kehidupan Pangeran Diponegoro, pengikutnya bersama dengan orang-orang yang hidup di jamannya. Ini menjadi hal menarik dalam bedah buku kali ini karena disandingkan dengan babad gedung kebo yang ditulis oleh Raden Adipati Diponegoro 1 bersama barsah pengalasan yang juga membahas sisi lain Diponegoro mengenai ketokohan dan pengibaratan diri menjadi seorang arjuna, seorang ratu yang adil dalam ramalan Joyoboyo yang merupakan sejarah tentang sosok kepahlawanan. Babad gedung kebo memiliki arti khusus dan menarik juga yaitu Pangeran Diponegoro dianggap sebagai berindan yang seolah Pangeran Diponegoro mempunyai watak yang baik tetapi sombong. “Namun tujuannya adalah menggali sumber-sumber budaya lokal yang menarik dengan berbagai versi narasi bahwa sejarah nasional tidak akan ada tanpa sejarah lokal”, kata bijaknya Agus Widyatmoko sebagai perwakilan dari Direktorat Sejarah.

Melihat gagasan dan pikiran Prof. Piter Carry maka dibedah dan dibahas kembali mengenai seluk beluk ketokohan Diponegoro oleh ke-4 narasumber yang sudah datang. Prof. Peter Carry sedikit bersimpati bahwa beliau ingin sekali menjadikan lukisan-lukisan yang digambarkan dari buku yang beliau tulis sebagai inspirasi semangat kepada orang yang datang melihat lukisannya. Beliau juga menyayangkan bahwasannya kurang adanya pemaksimalan tempat bersejarah seperti Karisidenan Kedu sebagai yang sakti, tempat yang harus selalu dikenang nilai-nilainya, bukan tempat yang digunakan untuk upacara lokal seperti pernikahan, pertunangan dan yang lainnya.

Dikesempatan bedah buku tersebut, membaca menjadi satu hal penting yang sudah bukan lagi alasan agar kita bisa memahami, tidak hanya sejarah namun juga seluruh aspek kehidupan yang bisa kita baca menjadi suatu kewajiban. Sehingga kita paham betul bagaimana nantinya kita bersikap meskipun dengan beberapa versi dari masing-masing penulis dengan topik yang sama. Kesimpulannya, melek sejarah adalah keterjagaan dan kesadaran akan sejarah, tidak lupa dan tidak kosong akan sejarah, yang dimanfaatkan untuk bertindak pada masa kini dan masa depan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Filter Bubble Effect

             Kehidupan orang-orang cenderung berubah sejak kedatangan media baru. Saat ini informasi memainkan peranan penting sehingga d...